aku rasa,
aku berada dalam roda yang sama sejak pertama kali aku melangkah keluar dari
rumah demi menghubungi nomor telepon seorang anak lelaki. aku dibuatnya bahagia
seketika, sebab ia menjawab telponku dalam nada suara yang riang. lama-kelamaan
nada itu berubah menjadi nada sibuk. ia dihubungi wanita lain. aku keluar dari
rumah demi mengetahui suatu kenyataan pahit.
wanita lain
memahami, butuh lebih dari sekedar komunikasi berkabel untuk menjaga seorang
pria tetap berada dalam pelukan kita. mereka membutuhkan komunikasi nirkabel.
komunikasi jiwa. komunikasi fisik. aku cukup fales memberikan pelayanan
komunkasi fisik. aku lebih mencintai diriku sendiri. karena itu, aku rasa aku
berada dalam roda yang masih sama.
BAGIAN DI MANA KAMU PERCAYA, DIALAH
YANG PERTAMA UNTUK TERAKHIR
Avril
membasuh layar komputer dengan tisu yang dicelupkan ke dalam bambu berisi
genangan air hujan semalam. monitor itu berdebu setebal nyaris 1 cm sebab tak
pernah disentuhnya berbulan-bulan, dan ia letakkan di dekat jendela. kamarnya
berada di lantai dua, di dekat balkon agar dapat dibangunkan matahari
pagi.
Ia datang
bersama kawan baiknya, Mayana. Ia dan Mayana dijamu ibu Avril dengan teh hangat
dan sebungkus biskuit kelapa. Avril terkejut. tentu saja. Ia tidak pernah
menyangka anak jangkung itu akan menemuinya pada suatu hari dan meminta maaf.
Bagi Avril, ia tidak perlu minta maaf. Itu hanya akan membuatnya mengingat
kembali luka yang sudah dilupakannya.
Anak
jangkung itu agak takut menatap wajahnya. sementra ibu Avril keluar masuk ruang
tamu, penasaran pada orang-orang yang membuat sepasang alis anak gadisnya
terangkat begitu tinggi. "Dulu, aku tidak bermaksud begitu," kata
anak jangkung itu. Avril mengingat-ingat, dia dulu memanggilnya Mosq.
Mosq bukan
anak hebat di kelas. bukan anak cerdas, bukan anak patuh. bukan pula anak yang
terlampau mengesalkan bagi para guru. Mosq memiliki kemampuan "tak
terlihat" dan "tak tersentuh". ia memiliki dunia sendiri yang
sekali waktu membuat Avril sangat penasaran untuk memasukinya. Dunia yang
dimiliki Mosq penuh petualangan dan reka adegan. Mosq seperti sutradara bagi
dunianya sendiri. Ia mengarahkan setiap orang di sekitarnya menjadi apa yang ia
butuhkan. Namun ia juga seorang penipu ulung, ia menjaga batas agar orang-orang
tidak meminta pertanggung jawabannya kelak.
"Apapun
yang kau lihat barusan, jangan beritahukan kepada siapapun" seseorang berbisik
tepat di samping telinganya. Avril bergidik.
"Hei,
tunggu dulu!" spontan Avril menarik kerah baju si pembisik. Itu Mosq.
Tusuk siomay penuh lem fox kini berada tepat di depan biji mata Avril.
"Lepaskan,"
Mosq mengancam
"Sial!"
Avril
melepas cengkramannya, "Ga pakai mengancam gitu dong. santai aja. iya, aku
lihat bagaimana kamu melumuri tempat duduk mereka dengan lem itu. aku hapal
setiap detail gerakanmu. karena aku sejak tadi berada di sini. Haha...kamu
ceroboh juga yah."
“Minta
apa kamu supaya mulutmu tidak bising?” Moqs bertanya
“Tidak
minta apa-apa,”
“Trus,
apa alasanmu tidak akan menceritakan semuanya kepada siapapun?”
“Ikut
aku!”
Avril
menarik tangan Mosq ke dalam kelas. Ia meminta Mosq mengemas isi tasnya,
sementara ia juga melakukan hal yang sama. Kemudian mereka mengendap-endap
menuju reservoir di belakang sekolah. Avril meminta Mosq berdiri tegak, agar ia
leluasa mencapai puncak pagar. Avril meloncat ke sisi sebelah pagar. Tak lupa
ia membawa tas Mosq bersamanya. Mosq pun mau tak mau harus melakukan hal yang
sama.
“Dengarkan
aku, sekarang aku ingin pantai ujung. Kamu mau ikut atau tidak?” tanya Avril
begitu Mosq tiba di sisi sebelah pagar.
“Arrgh…
kau gila!”
“Apa
kau tidak bosan melakukan kejahilan yang begitu-begitu saja setiap hari. Ngerjain
anak-anak di kelas dengan lem, petasan, apalah anulah itulah. Aneh, deh. Kalau aku
sudah bosan bukan main,”